Beranda ArtikelPelatihanGaleriVideoTentangAdmin
Kriya Yoga

TIDUR dan TURIYA

TIDUR dan TURIYA

Bagaimana Cara Belajar Dari Guru-guru Non Fisik

Saat kita bangun di pagi hari, kita tidak tahu bagaimana proses bangun itu terjadi. Kita menyadari bahwa kita sudah terjaga, tetapi apa sebenarnya yang membangunkan kita? Bukan jam alarm—kita bisa bangun dan sadar tanpa jam alarm. Apa yang memicu peralihan dari tidur ke keadaan terjaga?

Kita pun tidak tahu bagaimana tidur datang. Apa yang membuat kita tertidur? Kita tidak bisa tidur sesuka hati. Tidur harus datang. Ada orang yang tidak bisa tidur meskipun mereka ingin tidur. Bangun dan tertidur adalah tahapan yang tidak kita ketahui. Dikatakan dalam kitab suci bahwa bahkan para dewa pun tidak mengetahui transisi ini.

Kita ditarik dari keadaan terjaga setelah beberapa waktu, dan kita tertidur hanya untuk muncul kembali nanti. Seluruh proses ini adalah denyutan seperti menghirup dan menghembuskan napas. Prinsip denyutan ini ada siang dan malam.

Kita yakin bahwa kita ada bahkan selama jam-jam tidur. Secara inferensi kita tahu bahwa ada eksistensi dan denyutan dalam tidur. Tetapi kita tidak tahu bagaimana kita ada di sana dan bagaimana kita sampai di sana.

Pikiran terserap dalam tidur; kesadaran kita saat bangun terganggu. Namun, prinsip denyutan terus bekerja bahkan dalam tidur; detak jantung dan pernapasan kita berfungsi tanpa gangguan.

Denyutan lebih kuat daripada prinsip pikiran. Kecerdasan denyutan mengandung kesadaran yang lebih besar daripada pikiran objektif dalam keadaan bangun. Kesadaran ini lebih unggul daripada kesadaran yang kita miliki tentang diri kita sendiri.

Kita adalah kesadaran berdenyut murni dalam tidur, kesadaran yang terus menerus berdenyut. Denyutan adalah jalan antara bangun dan tidur dan merupakan tempat tinggal kita yang sebenarnya.

Alam membawa kita kembali ke tempat tinggal ini saat kita tidur dan membawa kita kembali.

Kesadaran Berlian

Sangat sedikit pencari spiritual yang menjelajahi misteri bagaimana mereka terlelap, bagaimana mereka terbangun dari tidur, dari mana mereka terbangun, dan apa serta di mana mereka berada sebelum terbangun.

Seorang murid atau yogi dapat secara sadar memasuki tempat tinggal mereka; langkah-langkah sadar untuk kembali disebut praktik yoga.

Ajaran kebijaksanaan menekankan pentingnya mengingat momen yang memisahkan tidur dari terjaga. Selama keadaan kesadaran ini, kita berada di kedua dunia secara bersamaan.

Ketika kita terbangun, kita baru saja muncul dari keberadaan murni dan belum menyelimuti diri kita dengan pikiran. Pada saat terbangun, kita mengalami “kesadaran berlian” atau “berlian kesadaran”.

Ini adalah keadaan kesadaran dan kehidupan yang asli. Ini adalah kesadaran itu sendiri dalam manifestasinya yang paling murni. Ini seperti cahaya putih cemerlang tanpa pikiran, seperti langit yang bersinar tanpa awan.

Tanpa keadaan ini sebagai dasar, kita tidak dapat berpikir. Keberadaan murni adalah apa yang kita sebut Tuhan. Ia ada, baik kita menyadarinya atau tidak.

Kita harus berhenti sejenak pada saat terbangun dan mengingat dari mana kita terbangun, dan jangan langsung terjun ke aktivitas sehari-hari.

Jika tidak, kita akan segera menyelimuti diri kita dengan pikiran dan pancaran berlian itu akan tersembunyi.

Momen ini adalah saat matahari terbit bagi kita, meskipun kita tidak melihat matahari terbit karena kita tidur lebih lama.

Matahari Terbit dan Matahari Terbenam

Matahari terbit dan matahari terbenam adalah momen-momen istimewa dan dianggap sakral. Berlatih spiritual pada saat-saat ini memberikan hasil terbaik.

Matahari terbenam dikaitkan dengan proses memasuki tidur, dan matahari terbit dikaitkan dengan proses bangun dari tidur.

Kita harus menyelaraskan diri setiap hari dengan kedua momen ini agar dapat mengenali kualitas istimewa yang ada dalam diri kita: keadaan kesadaran berkelanjutan yang mencakup kualitas fisik dan halus.

Ketika kita terbangun dari keadaan tidur, kita dapat bertanya:

“Siapakah saya?”
“Dari mana saya terbangun?”
“Apa yang telah membangunkan saya?”
“Di mana saya berada?”

Ketika kita tidur, kita memasuki teratai hati. Ketika kita bangun, kita bergerak menuju pusat Ajna atau pusat alis.

Dari titik ini kita memerintahkan tubuh untuk bangun dan memasuki aktivitas harian kita.

Samadhi dan Keadaan Turiya

Setiap pagi ketika kita bangun, kita merasa bahwa kita adalah “Aku”.

Ketika kita tertidur, kita melewati keadaan transisi dari sadar menuju tidak sadar. Dalam kitab suci, keadaan ini disebut “Samadhi”, yaitu keadaan kesatuan dengan Tuhan.

Dalam keadaan ini tidak ada kesadaran, pikiran, ucapan, ataupun tindakan.

Dari keadaan itu, kesadaran muncul kembali sebagai “AKU ADA”.

Samadhi dianggap mirip tidur tetapi sebenarnya bukan tidur. Tidak ada pengamat, hanya ITU.

Kesadaran kemudian muncul seperti impuls dan membawa kebangkitan kesadaran. Kebangkitan ini disebut “Turiya”.

Turiya berarti “yang keempat” dalam bahasa Sanskerta. Ini adalah keadaan kesadaran keempat yang melatarbelakangi keadaan bangun, mimpi, dan tidur.

Untuk memahami ini, kita memperhatikan proses bagaimana kita tertidur dan bagaimana kita terbangun.

Latihan Menuju Kesadaran Super

Untuk mencapai kesadaran super, kita harus berusaha tetap sadar sampai tidur menghampiri kita.

Hal ini perlahan membawa kita menuju keadaan Turiya, di mana sebagian dari diri kita tetap sadar.

Kita juga dapat merenungkan bagaimana tidur datang dan membayangkan diri berada di luar tidur.

Seiring waktu, latihan ini membawa kita menuju alam cahaya dan pertemuan dengan makhluk-makhluk mulia.

Dengan persiapan yang tepat, jam-jam tidur menjadi jam-jam meditasi.

Bahkan, jam-jam tidur dapat lebih bermanfaat daripada doa atau meditasi di siang hari.

Kita juga dapat menawarkan diri untuk melayani umat manusia kepada para Guru spiritual. Kontak dapat terjalin secara otomatis selama tidur dan kita menerima bimbingan.

Persiapan untuk Tidur

Kita perlu memprioritaskan tidur dan menjaga ritme tidur yang baik.

Disarankan tidur paling lambat pukul 22.30 dan bangun sekitar pukul 05.00.

Sebelum tidur, tubuh dan pikiran perlu dibersihkan. Pikiran dapat dibersihkan dengan membaca kitab suci.

Disarankan menyalakan lilin atau lampu tidur dan dupa cendana untuk menciptakan suasana yang harmonis.

Sebaiknya jendela dibuka agar udara segar masuk, dan tubuh tetap diselimuti agar hangat.

Saat tidur, kepala menghadap timur dan kaki menghadap barat.

Hindari warna-warna gelap pada tempat tidur karena dapat melemahkan energi.

Latihan Sederhana Sebelum Tidur

Saat berbaring di tempat tidur, hubungkan diri dengan napas.

Fokuskan perhatian pada bagian atas dada, tempat pusat jantung bagian atas berada.

Bayangkan diri bergerak naik dengan setiap tarikan napas.

Visualisasikan cahaya di tengah dahi dan tetap di sana sampai tidur datang.

Kita juga dapat memvisualisasikan langit penuh cahaya dan bintang-bintang.

Dengan cara ini kita menciptakan keselarasan dan mempersiapkan diri menerima ajaran selama jam-jam malam.

Dengan persiapan yang tepat, tidur menjadi gerbang menuju dunia halus dan kesadaran yang lebih tinggi.

← Kembali ke Artikel